Oleh: Muhammad Zunnurain
Dewan Pembina Al-Barzanji Al-Jannah
newsline.id – Di tengah derasnya arus modernisasi, generasi muda kian akrab dengan gaya hidup serbam instan, hedonistik, serta budaya barat yang glamour. Media sosial turut memperkuat pergeseran nilai ini hingga menjadikan mereka lebih sibuk dengan gawai, dan perlahan meninggalkan tradisi literasi serta nilai-nilai keislaman yang selama ini mengakar kuat.
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Kondisi tersebut membuat pelestarian budaya religius kian mengkhawatirkan. Tradisi pembacaan sholawat, khususnya Sholawat Al-Barzanji, mulai ditinggalkan. Padahal, Al-Barzanji bukan hanya untaian pujian kepada Nabi Muhammad SAW, melainkan warisan budaya spiritual yang telah hidup berabad-abad di tengah masyarakat Muslim Indonesia. Setiap baitnya memuat nilai moral, sejarah, serta kecintaan mendalam kepada Rasulullah, sekaligus memperkuat identitas budaya umat.
Akar Tradisi Al-Barzanji
Sholawat Al-Barzanji merupakan karya Syekh Ja’far Ibnu Hasan Al-Barzanji (1690–1766), ulama dan sastrawan abad ke-17 yang menulis naskah Iqd al-Jawahir. Nama “Al-Barzanji” sendiri merujuk pada kampung halamannya di wilayah Barzinj, Kurdistan, Irak.
Meskipun ditulis jauh setelah masa Rasulullah SAW, esensi syair-syairnya telah ada sejak para penyair resmi Rasul, seperti Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Rawahah, dan Ka’ab bin Malik, mempersembahkan pujian kepada Nabi.
Di Indonesia, tradisi pembacaan Al-Barzanji hidup dalam beragam acara, seperti Maulid Nabi, khitanan, dan syukuran keluarga. Di beberapa daerah, termasuk Nusa Tenggara Barat, dikenal pula pembacaan Maulid Al-Barzanji wa Al-Anasyid Al-Nahdiyyah yang dipopulerkan oleh TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid, dengan irama khas pada setiap judul syairnya.
Kebangkitan dari Generasi Muda
Beberapa tahun terakhir muncul fenomena menarik: generasi muda mulai kembali melirik Al-Barzanji. Berbagai komunitas pemuda, organisasi remaja masjid, hingga mahasiswa menggiatkan majelis pembacaan sholawat secara rutin. Bahkan sebagian mengembangkan konten digital, membuat dokumentasi pembacaan.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa mereka tidak sekadar menjadi pewaris, tetapi juga kreator yang mendorong tradisi ini tetap hidup dan relevan.
Harmoni Tradisi dan Inovasi
Kemampuan generasi muda dalam menjembatani tradisi dan kebutuhan zaman patut diapresiasi. Dengan pendekatan kreatif, mereka mampu mengemas nilai-nilai religius dalam bentuk yang lebih menarik tanpa kehilangan esensinya. Modernitas dan tradisi tidak lagi dipandang sebagai dua kutub yang saling bertentangan, tetapi sebagai harmoni yang saling menguatkan.
Menjaga Warisan, Menata Masa Depan
Pelestarian sholawat Al-Barzanji oleh generasi muda menjadi bukti bahwa spiritualitas belum sepenuhnya tergeser oleh teknologi. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, mereka menemukan ketenangan, identitas, sekaligus arah melalui warisan leluhur yang sarat nilai kearifan.
Pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan para tokoh agama diharapkan memberi dukungan lebih konkret, mulai dari penyediaan ruang kegiatan, program pembinaan, hingga integrasi budaya religius ke dalam kurikulum pendidikan.
Dengan tradisi Islam yang kuat, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadikan generasi mudanya sebagai pionir kebangkitan spiritual dan budaya Islam yang moderat.
Apa yang dilakukan generasi muda hari ini bukan sekadar nostalgia budaya, tetapi bentuk kesadaran kolektif agar mereka tidak tercerabut dari akar. Seperti lantunan Al-Barzanji yang mengalun syahdu, semangat anak muda dalam merawat tradisi ini tampak lembut, tetapi mengakar kuat.









