Oleh: Hananudin Asrori
Opini, newsline.id – Penetapan Sultan Muhammad Salahuddin sebagai Pahlawan Nasional baru-baru ini bukan sekadar penambahan daftar nama, melainkan sebuah penegasan simbolis yang krusial bagi sejarah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Indonesia. Gelar ini secara sempurna melengkapi pengakuan negara terhadap sosok TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, ulama karismatik dari Lombok.
Kini, NTB berdiri tegak dengan dua pilar kepahlawanan yang mewakili spektrum perjuangan bangsa: kekuatan politik kerajaan dari Pulau Sumbawa dan kekuatan pendidikan serta spiritual dari Pulau Lombok.
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Sultan Muhammad Salahuddin, yang memimpin Kesultanan Bima dari 1915 hingga 1951, dikenang bukan hanya karena gelarnya, tetapi karena keberaniannya yang tanpa kompromi saat negara baru lahir. Di tengah tarik-ulur dan intimidasi Belanda pasca-1945, Sultan Salahuddin berani mengambil risiko politik tertinggi.
Keputusannya mengeluarkan Maklumat Kerajaan Bima pada 22 November 1945 yang menyatakan Bima sebagai Daerah Istimewa dan berdiri di belakang RI, adalah sebuah pernyataan cinta tanah air yang tegas. Langkah ini bukan hanya menyelamatkan Bima dari kolonialisme, tetapi juga menjadi inspirasi moral bagi perlawanan di Indonesia Timur. Penghargaan yang diberikan langsung oleh Presiden Soekarno pada tahun 1950 adalah bukti nyata betapa vitalnya kesetiaan Sultan ini bagi kedaulatan NKRI.
Sementara itu, TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, atau Maulana Syaikh, adalah cerminan dari perjuangan kultural yang lebih senyap, namun dampaknya masif. Dikenal sebagai Bapak Pendidikan NTB, beliau menyadari bahwa kemerdekaan sejati harus dimulai dari pembebasan akal.
Sekembalinya dari Mekkah, beliau mendirikan pesantren Al-Mujahidin (Pesantren Para Pejuang) dan kemudian organisasi Nahdlatul Wathan (NW). Gerakan ini bukan sekadar mengajarkan agama; ia menanamkan benih-benih nasionalisme dan perlawanan di dalam madrasah. TGKH Zainuddin Abdul Madjid menggunakan pendidikan dan dakwah sebagai front terdepan, memastikan bahwa generasi muda Lombok memiliki integritas dan semangat juang sebelum memegang senjata.
Penetapan kedua tokoh ini, Sang Raja dan Sang Ulama, mengirimkan pesan kuat kepada generasi muda NTB dan seluruh Indonesia:
1. Kepemimpinan Visioner: Sultan Salahuddin mengajarkan bahwa pemimpin sejati harus berani mengambil sikap tegas di persimpangan sejarah demi kepentingan bangsa.
2. Kekuatan Literasi: TGKH Zainuddin Abdul Madjid menunjukkan bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk melawan penjajah dan kebodohan.
Kisah Sultan Bima dan Maulana Syaikh dari Lombok menegaskan bahwa NTB adalah lumbung pejuang tangguh. Pengakuan ini adalah hadiah terindah yang mengingatkan kita semua: semangat pengabdian dan integritas tidak pernah lekang oleh waktu, dan tugas kita sekarang adalah meneladani kedua pilar ini demi kemajuan Indonesia.









