Selong, Newsline.id – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Selong Sudirman memperkenalkan pendekatan pembinaan religius dengan menyebut warga binaan sebagai “santri” serta memperkuat kegiatan pembelajaran Al-Qur’an di dalam lapas.
Hal tersebut disampaikan Sudirman saat bersilaturahmi dengan insan pers di Lapas Selong, Rabu.
Menurutnya, pendekatan tersebut dilakukan untuk menyentuh sisi keagamaan warga binaan agar memiliki bekal moral ketika kembali ke masyarakat.
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin menyentuh hati mereka dengan agama agar saat keluar nanti, mereka tidak kembali lagi ke sini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, di dalam lapas dibentuk Lembaga Pendidikan Al-Qur’an (LPQ) sehingga suasana pembinaan menyerupai lingkungan pesantren. Program yang dijalankan antara lain “One Day One Juz” setelah salat Zuhur, sistem mentor bagi warga binaan yang telah lancar mengaji untuk membimbing yang masih belajar Iqra, serta penyediaan Al-Qur’an bagi setiap warga binaan.
Berdasarkan data lapas, dari 496 warga binaan, sebanyak 149 orang sebelumnya belum mengenal huruf hijaiyah. Namun, mereka kini aktif mengikuti pembelajaran membaca Al-Qur’an.
Selain pembinaan keagamaan, Lapas Selong juga menjalankan program kemandirian melalui pelatihan keterampilan seperti bengkel pengelasan, jasa cuci kendaraan, serta pelatihan bersertifikat bekerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP).
Hasil karya warga binaan tersebut dipasarkan melalui merek lokal “Sel 199”.
Sudirman berharap, perpaduan pembinaan kepribadian dan keterampilan tersebut dapat menjadi bekal bagi warga binaan untuk memulai kehidupan baru setelah bebas.
“Kami ingin mereka keluar membawa perubahan yang lebih baik bagi diri dan lingkungannya,” katanya. (AK)
Editor : R9









