Selong, newsline.id – Bupati Lombok Timur Haerul Warisin menyatakan optimalisasi penyaluran zakat, infak, dan sedekah (ZIS) menjadi salah satu instrumen pendukung pemerintah daerah dalam menekan angka kemiskinan ekstrem di Lombok Timur, Kamis (8/1).
“Pengentasan kemiskinan ekstrem tidak bisa hanya bergantung pada satu sumber. Diperlukan keterlibatan berbagai pihak agar bantuan benar-benar menyentuh masyarakat miskin,” kata Haerul Warisin.
Ia mengungkapkan Lombok Timur masih menghadapi persoalan rumah tidak layak huni dan kawasan kumuh yang jumlahnya mencapai lebih dari 2.000 unit. Sementara bantuan perumahan dari pemerintah pusat yang diusulkan dalam jumlah besar, baru terealisasi sekitar 430 unit.
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut dia, keterbatasan bantuan tersebut dipengaruhi oleh adanya bencana alam di sejumlah daerah lain, seperti di Sumatera dan Aceh, sehingga alokasi anggaran pusat lebih difokuskan ke wilayah terdampak.
“Kita tetap mendapat bantuan dari pusat, tetapi jumlahnya terbatas karena ada bencana di daerah lain,” ujarnya.
Selain bantuan dari pusat, pemerintah daerah juga menerima dukungan perumahan dari pemerintah provinsi serta Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), terutama untuk wilayah Lombok Timur bagian timur.
Ia menilai Baznas memiliki peran strategis dalam mendukung program sosial pemerintah daerah melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.
“Baznas menjadi mitra pemerintah dalam menangani persoalan sosial, kemanusiaan, pendidikan, dan keagamaan,” katanya.
Haerul Warisin juga menyinggung perubahan mekanisme pengelolaan zakat aparatur sipil negara (ASN) seiring kebijakan pemerintah pusat. Jika sebelumnya zakat ASN dipotong langsung, kini penyalurannya dilakukan secara mandiri.
“Polanya memang berubah, tetapi kami tetap mendorong agar zakat terus disalurkan,” ujarnya.
Ia menegaskan penghimpunan zakat tidak hanya bergantung pada ASN. Baznas Lombok Timur kini memperluas basis muzaki dengan menyasar kalangan pengusaha dan masyarakat mampu.
“Sudah ada puluhan muzaki baru, termasuk dari kalangan perusahaan, yang siap menyalurkan zakat melalui Baznas,” katanya.
Sementara itu, Ketua Baznas Lombok Timur Muhammad Kamli mengatakan penghimpunan ZIS pada 2025 mencapai sekitar Rp15 miliar, meskipun periode pengelolaan efektif hanya berlangsung selama lima bulan.
“Awalnya target 2026 berada di angka Rp20 miliar, namun dengan dukungan bupati dan pembukaan sumber-sumber baru, target tersebut berpotensi meningkat hingga Rp25 miliar sampai Rp30 miliar,” kata Kamli.
Menurut dia, ketergantungan pada zakat ASN secara bertahap mulai dikurangi dengan masuknya muzaki dari kalangan pengusaha. Saat ini tercatat sekitar 45 muzaki baru yang telah menyatakan komitmen menyalurkan ZIS melalui Baznas Lombok Timur.
“Tidak hanya ASN. Ada pengusaha dan pemilik usaha yang sudah mulai menyalurkan zakatnya secara rutin,” ujarnya.
Ia mencontohkan salah satu pengusaha rumah makan MBG di Lombok Timur yang telah menyalurkan zakat usaha selama dua bulan terakhir sejak mulai beroperasi.
“Potensi zakat dari sektor usaha cukup besar dan diharapkan dapat mendorong pelaku usaha lainnya untuk berpartisipasi,” kata Kamli.
Baznas Lombok Timur juga memberikan apresiasi kepada sejumlah lembaga perbankan dan pelaku usaha daerah yang dinilai konsisten menyalurkan ZIS melalui Baznas.
Kamli menambahkan penyaluran zakat melalui Baznas memiliki dasar hukum yang jelas dan memberikan manfaat bagi perusahaan.
“Sesuai ketentuan perundang-undangan, zakat yang disalurkan melalui Baznas dapat menjadi pengurang kewajiban pajak hingga 25 persen,” ujarnya.
Dana ZIS yang dihimpun tersebut dialokasikan untuk program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari upaya pengentasan kemiskinan ekstrem di Lombok Timur. (AK)
Editor : R9









