Lombok Timur, ntb.newsline.id — Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lombok Timur menggelar Workshop Kegiatan Sterilisasi dan Vaksinasi Anjing sebagai upaya memperkuat pencegahan rabies serta menekan angka gigitan anjing yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, Kamis (30/4/2026).
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, dengan fokus pada pengendalian populasi anjing liar, edukasi masyarakat, serta penguatan sistem penanganan kasus gigitan.
Dalam pemaparannya, disebutkan bahwa kasus gigitan anjing di Lombok Timur menunjukkan tren peningkatan signifikan, terutama dalam periode 2025 hingga 2026. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, beberapa wilayah bahkan mencatat lebih dari 100 kasus dalam dua tahun terakhir, dengan zona utara dan barat sebagai wilayah dengan tingkat kejadian tinggi.
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Peningkatan kasus ini dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya pertumbuhan populasi anjing yang tidak terkendali, keterbatasan ketersediaan makanan, serta periode musim reproduksi yang berlangsung antara April hingga Oktober.
Kondisi tersebut memicu meningkatnya agresivitas anjing, terutama anjing liar yang memiliki karakter teritorial dan sensitif terhadap gangguan di sekitarnya. Selain itu, mayoritas korban gigitan dilaporkan berasal dari kalangan anak-anak, sehingga diperlukan langkah edukasi sejak dini.
Meski demikian, Lombok Timur hingga saat ini masih berstatus bebas rabies. Namun, posisi geografis yang berdekatan dengan wilayah endemis seperti Pulau Sumbawa dan Bali menjadi tantangan tersendiri.
“Laut menjadi penghalang alami yang menjaga Lombok Timur tetap aman. Namun kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” ungkap salah satu pemateri dalam kegiatan tersebut.
Secara medis, tidak semua kasus gigitan anjing berkaitan dengan rabies. Beberapa kejadian bahkan disebabkan oleh luka serius di area vital yang berujung pada pendarahan hebat. Namun demikian, rabies tetap menjadi ancaman serius karena bersifat fatal apabila virus telah mencapai sistem saraf pusat.
Melalui workshop ini, Dinas Peternakan menekankan pentingnya pendekatan komprehensif, mulai dari edukasi kepada masyarakat, khususnya siswa sekolah dasar, hingga pengendalian populasi anjing melalui program sterilisasi dan vaksinasi.
Selain itu, upaya surveillance atau pemantauan juga akan ditingkatkan, termasuk pengambilan sampel untuk mendeteksi potensi penyebaran rabies di wilayah tertentu.
Ke depan, pemerintah daerah juga mendorong pembentukan tim khusus penanganan rabies yang terdiri dari dokter hewan, paramedis, serta petugas lapangan guna memperkuat respons cepat di masyarakat.
Namun demikian, pelaksanaan program tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan anggaran dan kesulitan dalam menangani anjing liar di lapangan.
Di sisi lain, penanganan kasus gigitan anjing juga kerap memicu perbedaan pandangan antara masyarakat dan kelompok pecinta hewan, terutama terkait tindakan terhadap anjing yang dianggap berbahaya.
Oleh karena itu, pendekatan berbasis edukasi, kolaborasi lintas sektor, serta penanganan ilmiah diharapkan menjadi solusi yang seimbang dalam menjaga kesehatan masyarakat tanpa mengabaikan aspek kesejahteraan hewan.
Penulis : Ak
Editor : Redaksi







