NTB, newsline.id – Kelompok Hamas resmi mengonfirmasi kematian lima pimpinan seniornya, termasuk juru bicara bersenjata Abu Obeida dan mantan pemimpin Gaza, Mohammed Sinwar, yang menjadi pukulan signifikan bagi organisasi itu sejak awal perang Gaza, menurut laporan. Gaza, (29/12).
Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin oleh sayap bersenjata Hamas, Brigade Izz ad-Din al-Qassam, disebutkan bahwa Mohammed Sinwar, adik mantan pemimpin Hamas Yahya Sinwar, tewas dalam operasi militer Israel di Gaza, menurut Jerusalem Post.
“Sinwar naik ke peran senior dalam organisasi dan dianggap sebagai tokoh kunci dalam komando perang Hamas setelah kematian beberapa komandan teratas lainnya,” tulis laporan tersebut.
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Militer Israel pada Mei lalu juga menyebut Sinwar tewas dalam serangan udara yang menargetkan markas Hamas di bawah Rumah Sakit Eropa di Khan Younis. Hamas tidak merinci tanggal pasti kematiannya, namun mengakui dia telah meninggal lebih awal tahun ini.
Selain itu, Hamas juga mengonfirmasi kematian Abu Obeida, juru bicara lama al-Qassam, yang menjadi wajah publik kelompok itu selama perang, menurut Reuters. Dalam pernyataan video, Brigade al-Qassam menyebut kematian juru bicara mereka dan memperkenalkan juru bicara baru yang juga mengenakan topeng.
“Dengan bangga kami mengumumkan syahidnya pemimpin besar … Abu Obeida,” kata juru bicara baru itu, mengungkapkan identitas asli Abu Obeida sebagai Hudhayfah Samir Abdullah al-Kahlout.
Militer Israel menyatakan bahwa Abu Obeida tewas tiga bulan setelah Sinwar. Abu Obeida dikenal sebagai suara kunci Hamas di Gaza, mengeluarkan pernyataan terkait perkembangan pertempuran, pelanggaran gencatan senjata, dan kesepakatan pertukaran tahanan antara Israel dan Palestina. Pernyataan terakhirnya tercatat pada awal September 2025, saat Israel memulai tahap awal serangan militer baru di Kota Gaza.
Selain Sinwar dan Abu Obeida, Brigade al-Qassam juga mengonfirmasi kematian beberapa komandan senior lainnya, termasuk Mohammed Shabanah, kepala Brigade Rafah, serta Hakam al-Issa dan Raed Saad. Mereka tergabung dalam daftar panjang perwakilan Hamas yang tewas dalam dua tahun terakhir, termasuk pemimpin politik Yahya Sinwar, komandan militer Mohammed Deif, dan ketua politik Ismail Haniyeh.
Juru bicara baru menegaskan kelompok tetap berkomitmen pada gencatan senjata yang berlaku lebih dari dua bulan terakhir, meski menuding Israel terus melanggar perjanjian. “Rakyat kami membela diri dan tidak akan menyerahkan senjata selama pendudukan masih ada,” katanya.
Sejak gencatan senjata 11 Oktober 2025, sedikitnya 414 warga Palestina tewas dan 1.145 lainnya luka-luka, dengan 680 jenazah berhasil ditemukan, menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Total korban sejak awal perang pada 7 Oktober 2023 mencapai 71.266 tewas dan 171.222 luka-luka.
Penulis : R9







