Mataram, newsline.id – Presiden Republik Indonesia menetapkan Sultan Muhammad Salahuddin, Sultan Bima ke-14 yang memerintah pada 1915–1951, sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan tersebut disambut dengan rasa bangga oleh masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya warga Bima, yang menilai penetapan ini sebagai bentuk penghargaan atas jasa besar Sang Sultan terhadap bangsa dan negara.
Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, menyambut keputusan tersebut dengan penuh syukur. “Alhamdulillah, pemerintah pusat sudah menyetujui gelar Pahlawan Nasional ini,” kata Iqbal dari Mataram, Sabtu, (8/11).
Mahasiswa KKN Universitas Hamzanwadi Hijaukan Sumber Air Lombok Timur
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Sultan Muhammad Salahuddin dikenal sebagai pemimpin visioner yang menaruh perhatian besar terhadap pembangunan pendidikan. Di tengah tekanan kolonial Belanda, ia mendirikan sekolah kota di setiap kejenelian serta sekolah desa yang kemudian menjadi cikal bakal Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar.
Selain itu, Sultan juga membangun lembaga pendidikan agama seperti Darul Ulum dan mendirikan Sekolah Kejuruan Wanita (Kopschool) pada tahun 1922—sebuah langkah maju yang menunjukkan komitmennya terhadap pendidikan dan emansipasi perempuan di wilayah Kesultanan Bima.
Tito Karnavian: Pertarungan Dunia Kini Beralih ke Bidang Ekonomi
Di bidang kebangsaan, semangat nasionalisme Sultan Muhammad Salahuddin ditunjukkan melalui Maklumat Kesultanan Bima yang menegaskan bahwa kerajaan berdiri di belakang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pernyataan itu menjadi simbol kesetiaan Kesultanan Bima terhadap proklamasi kemerdekaan Indonesia dan semangat perjuangan nasional.
Kepala Museum Samparaja Bima, Dae Dewi, yang juga ahli waris Sultan, menuturkan bahwa perjuangan Sultan Muhammad Salahuddin melampaui batas politik dan peperangan. “Beliau bukan hanya milik masyarakat Bima, tetapi juga milik seluruh bangsa. Semangat nasionalismenya dan sikap toleransinya menjadi teladan abadi bagi generasi penerus,” ujarnya.
Sultan Muhammad Salahuddin dikenal menjunjung tinggi nilai toleransi antarumat beragama. Ia bahkan memberikan sebidang tanah untuk pembangunan gereja di Raba Bima, yang menunjukkan sikap inklusif dan semangat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakatnya.
Warisan intelektual Sang Sultan, berupa kitab-kitab dan naskah khutbah Jumat yang ditulis tangan, kini tersimpan di Museum Samparaja Bima. Koleksi tersebut menjadi bukti nyata kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan peradaban di kawasan timur Nusantara.
Rencananya, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Muhammad Salahuddin akan dilaksanakan secara resmi pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025, di Istana Negara, Jakarta.
Pemerintah berharap pengakuan tersebut dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda NTB untuk meneladani semangat perjuangan, nasionalisme, serta kecintaan terhadap ilmu pengetahuan yang diwariskan oleh Sultan Bima XIV.
Penulis : HA







