NTB, newsline.id – Kebersamaan Ruben Amorim dan Manchester United resmi berakhir setelah 14 bulan yang penuh gejolak. Pelatih asal Portugal itu diberhentikan manajemen klub pada Senin pagi waktu setempat, menyusul memburuknya hubungan internal serta ketegangan berkepanjangan terkait arah taktik dan komunikasi publik.
Salah satu momen paling dikenang dari era Amorim adalah kekalahan memalukan United dari Grimsby Town pada ajang Piala Liga Inggris, Agustus lalu. Kekalahan adu penalti 11-12 dari klub divisi keempat itu menjadi noda sejarah tersendiri, sekaligus memunculkan keraguan publik terhadap kapasitas Amorim menangani klub sebesar United.
Usai laga tersebut, Amorim sempat melontarkan pernyataan emosional yang mengisyaratkan beban berat jabatannya. Meski kemudian ia menarik ucapannya dan mengakui emosinya kerap memengaruhi pernyataan di ruang publik, gaya komunikasi tersebut terus berulang dan menjadi sumber masalah hingga akhir masa tugasnya.
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Teguh pada Formasi, Retak dengan Manajemen
Sejak awal kedatangannya dari Sporting CP, Amorim membawa filosofi permainan yang jelas, yakni formasi 3-4-3. Namun, keteguhannya mempertahankan skema tersebut di tengah hasil yang tidak konsisten justru memicu ketegangan dengan manajemen klub.
Amorim menilai perubahan taktik akan merusak kredibilitasnya di mata pemain. Bahkan, ia beberapa kali secara terbuka menepis kritik media, sembari menegaskan bahwa keputusannya tidak bisa dipengaruhi pihak luar.
Ketegangan memuncak pada akhir Desember ketika Amorim kembali menggunakan skema tiga bek melawan Wolverhampton, hanya beberapa hari setelah sukses dengan formasi empat bek saat mengalahkan Newcastle. Keputusan itu menuai reaksi keras suporter dan dinilai negatif oleh internal klub, terlebih setelah hasil imbang 1-1 melawan Wolves yang kala itu terpuruk di papan bawah.
Direktur teknik Jason Wilcox sempat meminta Amorim untuk lebih fleksibel secara taktis. Namun, permintaan tersebut tidak direspons sebagaimana diharapkan. Amorim justru menganggap masukan tersebut sebagai bentuk intervensi berlebihan.
Hasil Tak Buruk, Situasi Tak Sehat
Secara klasemen, Manchester United berada di posisi keenam Liga Inggris, sejalan dengan target awal musim. Namun, manajemen menilai potensi skuad jauh lebih besar daripada yang ditunjukkan di lapangan.
Selain persoalan taktik, Amorim juga membuat sejumlah keputusan kontroversial, termasuk mengasingkan beberapa pemain senior seperti Marcus Rashford, Jadon Sancho, Antony, dan Alejandro Garnacho sejak pramusim. Penjualan Scott McTominay dan Rasmus Hojlund juga memunculkan tanda tanya, terutama setelah klub menggelontorkan dana besar untuk pemain pengganti yang belum memberikan dampak signifikan.
Di sisi lain, manajemen menolak permintaan Amorim untuk mendatangkan kiper Emiliano Martinez, dan memilih berinvestasi pada kiper muda Senne Lammens dengan pertimbangan jangka panjang serta analisis data.
Tanggung Jawab Tak Hanya pada Pelatih
Pemecatan Amorim menambah panjang daftar pelatih yang gagal mengembalikan kejayaan United dalam satu dekade terakhir, setelah sebelumnya klub berpisah dengan David Moyes, Louis van Gaal, Jose Mourinho, Ole Gunnar Solskjaer, Ralf Rangnick, dan Erik ten Hag.
Sorotan kini tidak hanya tertuju pada Amorim, tetapi juga pada jajaran pengambil keputusan klub, termasuk CEO Omar Berrada dan direktur teknik Jason Wilcox. Penunjukan Amorim dengan ultimatum “sekarang atau tidak sama sekali” dinilai tidak sepenuhnya sejalan dengan kondisi skuad yang diwarisi sang pelatih.
Manchester United telah menghabiskan lebih dari 200 juta poundsterling untuk mendukung proyek Amorim. Namun, ketidaksinkronan antara visi pelatih dan arah klub membuat situasi tak lagi dapat dipertahankan.
Mencari Jalan Keluar
Dengan Amorim kini menjadi bagian dari masa lalu, United kembali memasuki fase pencarian pelatih baru. Namun, banyak pihak menilai bahwa pergantian sosok di pinggir lapangan saja tidak cukup.
Masalah struktural, kebijakan rekrutmen, serta identitas permainan masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi klub berjuluk Setan Merah tersebut, yang secara finansial masih tercatat sebagai salah satu klub terkaya di dunia.
Pencarian solusi jangka panjang menjadi tantangan utama Manchester United agar tidak kembali terperangkap dalam siklus kegagalan yang sama.
Penulis : R9









