Jakarta, newsline.id – Sikap Partai Gerindra yang tidak memasukkan nama Gibran Rakabuming Raka dalam bursa calon wakil presiden untuk Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 dinilai sebagai sinyal adanya perbedaan arah politik dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Pengamat politik dari Citra Institute Efriza menilai langkah tersebut mencerminkan keinginan Gerindra dan Ketua Umumnya Prabowo Subianto untuk lebih mandiri dalam menentukan arah politik ke depan.
“Sikap Gerindra juga ditengarai sebagai simbol di pemerintahan bahwa Prabowo jengah kerap direcoki oleh Jokowi dan dipersepsikan sebagai presiden tidak mandiri. Ini menunjukkan sudah adanya perbedaan kepentingan maupun sikap, meski Pilpres masih jauh,” ujar Efriza, Selasa (10/2).
ADVERTISEMENT
.480px x 600pxSCROLL TO RESUME CONTENT
Ia mengatakan keputusan itu dapat dibaca sebagai upaya Gerindra untuk keluar dari bayang-bayang pengaruh Jokowi dalam konstelasi politik nasional.
“Gerindra dan Prabowo sudah menginginkan lepas dari bayang-bayang Jokowi dan ingin mandiri,” katanya.
Menurut Efriza, dinamika tersebut juga tidak terlepas dari perhitungan elektoral menjelang 2029. Ia menilai faktor citra dan elektabilitas akan menjadi pertimbangan utama partai dalam menentukan pasangan calon.
“Langkah politik tentu mempertimbangkan peluang menang dan persepsi publik terhadap figur yang diusung,” ujarnya.
Efriza juga menilai dinamika ini menunjukkan adanya kalkulasi politik dari berbagai pihak dalam menjaga pengaruh dan posisi menjelang kontestasi 2029.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari Partai Gerindra maupun pihak terkait mengenai arah koalisi dan komposisi pasangan calon untuk Pilpres 2029. (Red.)







